Tuesday, 25 January, 2022

KIM PELANGI Desa Penggung

Tumpeng Agung dan Filosofi Hidup Masyarakat Penggung


Dalam budaya masyarakat desa Penggung, Tumpeng Agung merupakan perlambang kemakmuran masyarakatnnya.

CERITA TUMPENG AGUNG

kimpelangi.kabpacitan.id Keberagaman budaya yang sangat banyak tidak hanya menjadikan Indonesia kaya akan budaya, tradisi, atau bahasa saja. Keberagaman budaya tersebut juga menghasilkan keberagaman kuliner khas daerah-daerah di Indonesia. setiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas dengan cita rasa yang juga khas.

Sebelum agama Islam masuk ke Indonesia, agama Hindu masuk terlebih dahulu dan kemudian banyak dianut oleh masyarakat Indonesia pada jaman dahulu. Agama Hindu banyak mengajarkan tentang Dewa-Dewi yang mereka percayai tinggal di Gunung-Gunung yang ada di Indonesia. Seperti yang kita tahu, bahwa Indonesia memiliki banyak Gunung berapi, terutama di pulau Jawa. Akibat ajaran tersebut, masyarakat percaya bahwa Gunung adalah tempat suci karena ditinggali oleh para Dewa-Dewi. Sebagai permohonan kepada para Dewa-Dewi, masyarakat membuat nasi kuning yang dibentuk mengerucut, menyerupai Gunung, untuk meminta perlindungan dan pertolongan kepada mereka.

Setelah Islam memasuki dan mulai menyebar di Indonesia, tradisi membuat tumpeng sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan masih terus dilakukan oleh masyarakat. Hanya saja, tujuan pembuatan tumpeng yang menyerupai bentuk Gunung tersebut bukan lagi ditujukan kepada Dewa-Dewi, melainkan kepada Allah, Tuhan penguasa alam. Tradisi yang sudah melekat begitu lama di masyarakat memang sangat sulit untuk dihilangkan. Bahkan hingga saat ini, tradisi membuat tumpeng masih tetap dijalankan sebagai bagian penting dari berbagai tradisi yang dijalankan seperti syukuran kelahiran, ulang tahun, dan acara penting lainnya.

Selain dilihat dari segi penyebaran agama di Indonesia, asal mula adanya tumpeng juga dapat kita lihat dari bahasa yang digunakan untuk menamainya. Menurut Islam Kejawen, ajaran Islam yang masih berpegang teguh pada ajaran Kejawen juga, Tumpeng berasal dari bahasa Jawa. Tumpeng adalah akronim dari bahasa Jawa yaitu metu kudu sing mempeng, yang artinya jika akan keluar harus melakukannya dengan sungguh-sungguh. Dari akronim tersebut dapat kita lihat bahwa tumpeng adalah representasi yang menggambarkan tekad seseorang ketika akan melakukan sesuatu agar tidak ragu-ragu. Kepercayaan diri dalam mengambil keputusan adalah sesuatu yang sangat penting, oleh karena itu harus dipikirkan dengan sebaik mungkin.

Nasi tumpeng memang bukan sekedar makanan khas Indonesia yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Nasi tumpeng memiliki cerita dan asal usul tersendiri yang sangat spesial sehingga membuat masyarakat hanya menggunakannya ketika akan mengadakan acara spesial juga. Karena filosofinya yang sangat kuat, nasi tumpeng biasanya tidak dapat dikonsumsi seperti makanan lainnya. Nasi berbentuk seperti Gunung ini memang sangat spesial sehingga hanya dibuat ketika akan mengadakan berbagai macam acara khusus.

Acara Syukuran, atau di beberapa tempat lebih dikenal dengan Tumpengan adalah salah satu acara yang sering menggunakan tumpeng sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan. Jawa, Bali dan Madura merupakan tiga daerah yang paling sering menggunakan nasi tumpeng saat mengadakan berbagai acara khusus. Diawali dari Jawa yang memang memiliki banyak Gunung dan penyebaran agama yang signifikan, membuat nasi tumpeng sangat dikenal di tanah Jawa. Hingga saat ini, nasi tumpeng juga masih digunakan sebagai bagian penting dalam berbagai acara-acara penting seperti acara perayaan adat, acara syukuran pernikahan, sunatan, kelahiran anak, dan lainnya. mengadakan berbagai cara penting, saat ini tak perlu repot lagi untuk membuat nasi tumpeng beserta lauk-pauknya,.

Tumpeng

Tumpeng adalah sejenis olahan nasi yang dibuat membentuk kerucut, menyerupai gunung. Umumnya, tumpeng dibuat dalam dua jenis, yaitu nasi kuning dan nasi putih. Tumpeng biasanya dibuat sebagai bagian dari perayaan atau hajatan tertentu, seperti slametan, kelahiran anak, peresmian bangunan, dan lain sebagainya.
Dalam budaya masyarakat Penggung, Tumpeng Agung dimaknai sebagai bentuk pengharapan kehidupan yang lebih baik. Simbul kemakmuran masyarakatnnya. Selain itu, bentuk tumpeng yang menanjak naik dan tinggi diharapkan dapat memicu peningkatan hidup masyarakatnnya.

Asal-usul dan Makna Nasi Tumpeng
Di Indonesia tradisi merayakan sesuatu dengan nasi tumpeng masih sangat digemari. Biasanya tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Jawa.
Pada mulanya, tumpeng digunakan masyarakat Jawa dan sekitarnya (termasuk Madura dan Bali), untuk membuat persembahan kepada gunung-gunung sebagai bentuk tanda penghormatan bahwa ada leluhur yang mendiami gunung-gunung tersebut. Hal ini terjadi sejak lama, jauh sebelum agama masuk ke Nusantara.
Kemudian, agama Hindu masuk ke Indonesia. Perayaan dan pembuatan tumpeng mengalami sedikit perubahan, yaitu dari bentuk nasinya. Nasi tumpeng baru mulai dibuat kerucut ketika era Hindu. Kerucut merupakan tiruan bentuk gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa-dewi mereka.
Setelah Islam masuk ke Nusantara, pembuatan tumpeng kembali disesuaikan dengan kaidah Islam, dan kemudian menjadi nasi tumpeng yang kita kenal hingga sekarang. Biasa digunakan untuk perayaan tertentu seperti syukuran, kenduri, dan sebagainya, teman-teman.
Makna lauk dalam nasi tumpeng
Selain itu di sekeliling nasi tumpeng biasanya ada lauk. Nah, pemilihan jumlah dan jenis lauk di dalam sepaket nasi tumpeng juga tidak sembarangan, sebab semuanya memiliki makna tersendiri.
Biasanya ada paling tidak 7 jenis lauk di nasi tumpeng. Mengapa 7? Sebab dalam bahasa Jawa angka 7 disebut pitu, yang juga bisa diartikan sebagai pitulungan atau pertolongan. Selain itu, jenis lauk yang dipilih juga ada maknanya. Misalnya telur yang menggambarkan kebersamaan. Ikan yang menggambarkan sebuah keuletan, dan perjuangan hidup meski sedang berada di masa-masa yang sulit.
Ada juga ayam jantan yang biasa dimasak dengan bumbu kuning. Ini melambangkan bahwa manusia sebaiknya menghindari sifat jelek yang ada pada ayam jago (jantan) misalnya sombong atau ingin menang sendiri.
Sayur urap
Berbeda dengan lauk pauk yang memiliki banyak makna, sayuran urap di nasi tumpeng umumnya memiliki makna yang baik. Sayur yang terdiri atas kangkung, toge, dan kacang panjang ini memiliki makna melindungi dan pertimbangan yang baik dalam memilih segala sesuatu. (admin/dari berbagai sumber)

0 comments on “Tumpeng Agung dan Filosofi Hidup Masyarakat Penggung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *